fbpx
hukum qurban bergilir

Hukum Qurban Bergilir Antar Anggota Keluarga Menurut Islam

Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia saat menjalankan ibadah qurban adalah melakukannya secara bergilir. Biasanya, kebiasaan ini diterapkan oleh satu keluarga. Misalnya tahun ini kepala keluarga yang berqurban, kemudian tahun berikutnya adalah istri, anak-anaknya, atau kerabat lainnya yang menjalankan qurban, begitu seterusnya. Lalu, bagaimana hukum qurban bergilir menurut Islam?

Sama halnya dengan patungan qurban atau qurban uang, berqurban secara bergilir juga menjadi salah satu hal yang sangat lumrah kita temui saat memeringati Hari Raya Idul Adha. Bahkan tak jarang, ada keluarga yang sudah merencanakan ibadah qurban secara bergilir ini sejak jauh-jauh hari (atau tahun-tahun sebelumnya).

Biasanya, fenomena berqurban secara bergiliran antar anggota keluarga ini terjadi untuk qurban sunnah (bukan qurban wajib seperti nazar). Para shohibul qurban pun umumnya juga mengurbankan hewan yang bervariasi.

Misalnya qurban sapi atau kambing, atau mungkin berqurban lebih dari satu ekor. Metodenya pun bisa dilakukan melalui qurban online atau secara langsung. Lantas, apakah ada syariat yang mendasari hukum qurban secara bergiliran seperti ini?

Untuk lebih jelasnya, simak langsung penjelasan berikut ini.

Hukum Qurban Bergilir Menurut Syariat Islam

Melansir dari muslim.or.idNabi Muhammad SAW selalu menjalankan ibadah qurban setiap tahunnya. Akan tetapi, tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa beliau berqurban secara bergiliran dengan anggota keluarganya (istri-istrinya dan anak-anaknya).

Bahkan, Nabi Muhammad SAW menganggap bahwa pahala qurban tersebut sudah mencukupi keluarganya beserta umatnya. Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga beberapa kali berqurban atas nama keluarganya. Namun tidak mempergilirkan qurban.

Dari Anas bin Malik, beliau berkata:

ضحَّى رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ بكبشَيْنِ أقرنيْنِ أملحيْنِ أحدِهما عنهُ وعن أهلِ بيتِه والآخرِ عنهُ وعمَّن لم يُضَحِّ من أمَّتِه

Yang artinya : “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berqurban dengan dua domba gemuk yang bertanduk salah satunya untuk diri beliau dan keluarganya dan yang lain untuk orang-orang yang tidak berqurban dari umatnya” (HR. Ibnu Majah).

Begitu juga para sahabat Nabi, di mana yang berqurban di antara mereka adalah para kepala keluarga. Para sahabat tersebut juga tidak mempergilirkan qurban pada keluarga mereka. Abu Ayyub Al Anshari berkata:

كانَ الرَّجلُ في عَهدِ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يُضحِّي بالشَّاةِ عنهُ وعن أَهلِ بيتِهِ فيأْكلونَ ويَطعَمونَ ثمَّ تباهى النَّاسُ فصارَ كما ترى

Yang berarti : “Dahulu di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, seorang lelaki berqurban dengan satu kambing untuk dirinya dan keluarganya. Mereka makan dan sembelihan tersebut dan memberi makan orang lain. Kemudian setelah itu orang-orang mulai berbangga-bangga (dengan banyaknya hewan qurban) sebagaimana engkau lihat” (HR. Tirmidzi).

Pendapat Ulama Lain tentang Qurban Bergilir

Pendapat lain adalah dari Syaikh Ibnu Al Utsaimin, yang pernah mendapatkan pertanyaan : “Apakah setiap anggota keluarga dituntut untuk berqurban atas diri mereka masing-masing?”

Syaikh Ibnu Al Utsaimin menjawab bahwa yang sesuai sunnah untuk berqurban adalah kepala rumah tangga, bukan anggota keluarganya. Bahkan, istri Nabi Muhammad SAW tidak ada yang berqurban karena sudah cukup dengan qurban yang Nabi SAW lakukan.

لا.السنة أن يضحي رب البيت عمن في البيت، لا أن كل واحد من أهل البيت يضحي، ودليل ذلك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ضحى بشاة واحدة عنه وعن أهل بيته، وقال أبو أيوب الأنصاري رضي الله عنه: ( كان الرجل على عهد النبي صلى الله عليه وسلم يضحي بالشاة عنه وعن أهل بيته ) ولو كان مشروعاً لكل واحد من أهل البيت أن يضحي لكان ذلك ثابتاً في السنة، ومعلوم أن زوجات الرسول عليه الصلاة والسلام لم تقم واحدة منهن تضحي اكتفاء بأضحية النبي صلى الله عليه وسلم

Artinya : “Tidak. Yang sesuai sunnah, kepala rumah tangga lah yang berkurban. Bukan setiap anggota keluarga. Dalilnya, Rasulullah SAW berqurban dengan satu kambing untuk dirinya dan keluarganya. Dan Abu Ayyub Al Anshari berkata: “Dahulu di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, seorang lelaki berqurban dengan satu kambing yang disembelih untuk dirinya dan keluarganya”.

Andaikan disyariatkan setiap anggota keluarga untuk berkurban atas dirinya masing-masing tentu sudah ada dalilnya dari sunnah Nabi. Dan kita ketahui bersama, bahwa para istri Rasulullah SAW tidak ada yang berqurban, karena sudah mecukupkan diri dengan qurban Nabi SAW“.

Qurban Bergilir, Bolehkah?

Dari penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwasanya berqurban memang disunnahkan untuk kepala keluarga, dan mewakili anggota keluarganya. Ini juga sesuai dengan karya Al Baji dalam kitab Al Muntaqa yang menyebutkan:

والأصل في ذلك حديث أبي أيوب كنا نضحي بالشاة الواحدة يذبحها الرجل عنه وعن أهل بيته زاد ابن المواز عن مالك وولديه الفقيرين قال ابن حبيب: وله أن يدخل في أضحيته من بلغ من ولده وإن كان غنيا إذا كان في نفقته وبيته

Yang artinya : “Landasan dari hal ini adalah hadits Abu Ayyub: ‘dahulu kami biasa berqurban dengan satu kambing yang disembelih seorang lelaki untuk dirinya dan keluarganya’. Dalam riwayat Ibnu Mawaz dari Malik adal tambahan: ‘dan orang tuanya dan orang fakir yang ia santuni’.

Ibnu Habib mengatakan: ‘Maka boleh meniatkan qurban untuk orang lain yang bukan keluarganya, dan ia orang yang kaya, jika memang orang lain tersebut biasa ia nafkahi dan tinggal di rumahnya’”

Kesimpulan

Dapat kita simpulkan bahwa cukuplah kepala keluarga saja yang berqurban berdasarkan sunnah Nabi Muhammad SAW serta kebiasaan para sahabat Nabi. Tidak perlu melakukan qurban secara bergiliran kepada anggota keluarga yang lain, sebab tidak ada keutamaan khusus.

Namun jika anggota keluarga yang lain berqurban atas namanya sendiri, hukumnya tetaplah sah. Hanya saja kurang sesuai dengan sunnah Nabi SAW.

Kendati demikian, berqurban secara bergiliran tetap sah, asalkan niatnya ikhlas karena mencari ridha Allah SWT. Sebab, salah satu penyebab qurban tidak diterima adalah karena niat berqurban yang tidak  sesuai dengan syariat Islam. Misalnya karena ingin pamer atau ingin mendapatkan pujian.

Di sisi lain, bagi Anda yang ingin menjalankan ibadah qurban dengan lebih mudah, Anda bisa berqurban secara online menggunakan layanan Qurban Online. Selain memberikan kemudahan dalam setiap prosesnya, berqurban di Qurban Online juga memberikan banyak manfaat dan kelebihan.

Antara lain garansi tersedianya hewan ternak karena memiliki kandang sendiri, garansi penggantian hewan yang mati atau sakit sebelum penyembelihan qurban, proses penyembelihan yang sesuai syariat Islam, pengolahan daging qurban yang sesuai standar, serta pendistribusian atau pembagian daging qurban yang merata untuk golongan penerima qurban di seluruh Indonesia.

Bagi Anda yang tertarik, silakan kunjungi https://qurban-online.com/ untuk mengetahui tata cara berqurban di Qurban Online. Anda juga bisa memilih paket qurban yang sesuai dengan kebutuhan dan budget yang Anda miliki.

Leave A Comment

Cart

Tidak ada produk di keranjang.

Create your account

Chat dengan team kami