fbpx
4 Perbedaan Qurban Wajib dan Qurban Sunnah

4 Perbedaan Qurban Wajib dan Qurban Sunnah

Sebagian besar umat Muslim pasti sudah familiar dengan prosesi qurban yang dilaksanakan setiap perayaan hari raya Idul Adha. Namun, menurut beberapa hadits, ibadah qurban terbagi menjadi dua jenis, yaitu qurban wajib dan qurban sunnah.

Meskipun keduanya sama-sama menyembelih hewan qurban pada 10 Dzulhijjah dan hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah), tetapi keduanya berbeda dari segi niat dan tujuan pelaksanaannya. Oleh sebab itu, setiap orang yang akan berqurban harus mengetahui perbedaannya sehingga senantiasa mendapatkan ridho dan manfaat berqurban lillahi ta’ala.

Lantas, apa saja perbedaan qurban wajib dan qurban sunnah? Simak penjelasannya pada artikel di bawah ini.

Perbedaan Qurban Wajib dan Qurban Sunnah

Pada dasarnya, hukum asal ibadah qurban adalah sunnah kifayah atau bersifat kolektif. Artinya, jika ada satu anggota keluarga telah melaksanakan qurban, maka itu sudah bisa menggugurkan tuntutan atau kewajiban anggota keluarga lainnya untuk berqurban. Itulah yang bisa Anda sebut sebagai qurban sunnah.

Tetapi, sifat ibadah qurban bisa berubah menjadi wajib jika ada niat nazar untuk melakukan qurban di bulan Dzulhijjah. Baik itu melaksanakan qurban secara langsung atau konvensional maupun qurban online.

Misalnya, Anda berjanji atau bernazar untuk berqurban seekor kambing apabila mendapat pekerjaan atau memiliki anak di tahun depan. Dan ketika harapan tersebut terwujud, maka Anda harus atau wajib berqurban. Tentu jenis qurban tersebut berbeda dengan aqiqah.

Selain berbeda dari segi hukum dan niatnya, adapun perbedaan lain dari qurban wajib dan qurban sunnah adalah sebagai berikut.

1. Hak Konsumsi Daging Qurban

Menurut Syekh Khathib al-Syarbini yang mengutip NU Online, saat seseorang yang berqurban (shohibul qurban atau mudlahhi) sunnah, mereka diperbolehkan untuk mengambil dan memakan bagian hasil qurban.

Berbeda dengan mudlahhi yang melaksanakan qurban wajib, ia diharamkan untuk mengkonsumsi hasil qurbannya. Kondisi tersebut juga berlaku bagi orang-orang yang di bawah tanggung jawab mudlahhi, misalnya istri, anak, saudara kandung, orang tua, dan pihak lainnya.

2. Wujud dan Jumlah Daging Qurban yang Dibagi

Perbedaan selanjutnya yang juga penting untuk Anda pahami adalah dari segi wujud dan jumlah atau kadar pembagian daging qurban.

Bagi orang yang berqurban sunnah diwajibkan untuk membagi sebagian hasil qurban dengan standar minimal daging mentah yang layak konsumsi dan dalam jumlah yang cukup. Misalnya satu kantong plastik daging, bukan dalam jumlah yang hanya cukup untuk satu sampai dua suapan. Dan sisahnya bisa ia konsumsi sendiri.

Sedangkan untuk orang yang berqurban wajib diharuskan membagi seluruh hasil qurban kepada golongan fakir miskin tanpa terkecuali. Dan ia diharamkan untuk memberikan bagian daging qurban ke orang yang mampu secara finansial.

3. Golongan Penerima Daging Qurban

Seperti yang sudah sempat dibahas di poin kedua, orang yang berqurban wajib harus memberikan semua hasil qurban kepada kaum fakir miskin sebagai golongan penerima utama daging qurban. Tak hanya daging, ia juga bisa memberikan bagian kulit dan tanduk kepada fakir miskin secara merata.

Sementara untuk orang yang berqurban sunnah boleh membagi hasil qurban baik kepada fakir miskin dan orang mampu. Namun, terdapat perbedaan dari segi hak atas daging qurban yang diterima.

Daging qurban yang fakir miskin terima bersifat tamlik atau memiliki hak kepemilikan penuh. Maksudnya, mereka boleh hanya memakan daging qurban tersebut atau bahkan menjual dan menyedekahkan daging tersebut kepada orang lain.

Berbeda halnya dengan daging qurban yang orang mampu terima bersifat tasaruf atau konsumtif semata. Jadi, orang mampu tersebut hanya boleh memakan daging tersebut atau menyajikan kepada tamu yang berkunjung ke rumahnya. Orang mampu tersebut tidak boleh menjual atau menyedekahkan daging qurban kepada orang lain.

4. Niat Qurban

Perbedaan terakhir antara qurban wajib dan qurban sunnah adalah penggunaan niat berqurban. Baik Anda menyembelih hewan qurban sendiri atau diwakilkan orang lain, Anda dan perwakilan harus membaca niat sesuai jenis qurban.

Adapun niat berqurban sunnah yang di niati sendiri adalah:

نَوَيْتُ الْأُضْحِيَّةَ الْمَسْنُوْنَةَ عَنْ نَفْسِيْ لِلهِ تَعَالَى

Artinya:

“Aku niat berqurban sunnah untuk diriku karena Allah.”

Lalu niat berqurban sunnah yang di lakukan oleh wakil orang yang berqurban adalah:

نَوَيْتُ الْأُضْحِيَّةَ الْمَسْنُوْنَةَ عَنْ زَيْدٍ مُوَكِّلِيْ لِلهِ تَعَالَى

Artinya:

Aku niat berqurban sunnah untuk (orang yang memasrahkan kepadaku) karena Allah.

Sedangkan niat berqurban wajib yang di niati sendiri adalah:

نَوَيْتُ الْأُضْحِيَّةَ الْوَاجِبَةَ عَنْ نَفْسِيْ لِلهِ تَعَالَى

Artinya:

Aku niat berqurban wajib untuk diriku karena Allah.

Dan niat berqurban wajib yang di lakukan oleh wakil orang yang berqurban adalah:

نَوَيْتُ الْأُضْحِيَّةَ الْوَاجِبَةَ عَنْ زَيْدٍ مُوَكِّلِيْ لِلهِ تَعَالَى

Artinya:

Aku niat berqurban wajib untuk (orang yang memasrahkan kepadaku) karena Allah.

Demikian penjelasan singkat tentang perbedaan-perbedaan qurban wajib dan qurban sunnah. Sejatinya poin-poin di atas juga tetap berlaku bagi Anda yang melaksanakan qurban online yang kini hukum qurban online sudahlah sah di mata agama.

Anda bisa menggunakan layanan Qurban Online yang bekerja sama dengan LazisQu untuk memperoleh banyak keuntungan atau kelebihan berqurban online yang amanah dan aman. Sebab, tata cara qurban online kami sangatlah mudah, jelas, dan transparan. Mulai dari pemilihan hewan qurban, monitoring pesanan, hingga pendistribusian hasil qurban ke pihak penerima yang tepat sasaran.

Leave A Comment

Cart

Tidak ada produk di keranjang.

Create your account

Chat dengan team kami